tadi pagi di bus PPD 213 yang memang biasa saya naiki,
ada bapak2 yang ngg, entah apa sebutannya, berceramah kurang lebih 10 menit.
awalnya saya mendengarkan, tapi toh ternyata omongan bapak itu berputar2.
saya malas dengan hal2 semacam ini, biasanya memilih untuk memejamkan mata saja, mencoba tidur sambil mendengarkan iPod hitam saya.
tapi bapak ini berdiri di lorong tepat di sebelah bangku yang saya duduki.
untungnya saya duduk di sisi dekat jendela, seat favorit saya kalau di bus.
saya pun tidak tertarik untuk memperhatikan bapak itu.
sampai tiba waktu dia berkata, "kalau bapak2 ibu2 rela memberi, saya terima dengan tangan terbuka. kalau bapak2 ibu2 tidak rela, mendingan nggak usah. saya juga mendingan nggak usah terima." yah kurang lebih begitu lah intinya.
saya pun berkata dalam hati, "wah oke juga bapak ini. jujur sejujur-jujurnya, bener juga sih apa yang dia bilang."
tapi kemudian dia berjalan maju ke baris di belakang bangku yang saya duduki, dan seorang wanita paruh baya memberinya uang receh Rp 500,-. bapak ini pun berkata "500 ni, saya pake buat beli nasi. bukan buat mabok2!!"
tapi kemudian si wanita itu berkata, "maaf." dengan lembut kepada bapak itu.
saya pun berpikir, waduh. kenapa ni ibu malah minta maaf -,-"
kemudian si bapak itu menjawab dengan setengah berteriak. "ngomong yang kenceng! saya nggak bisa denger ini!"
loh loh, kenapa jadi begini?
bapak itu berkata lagi, "500 ni, saya pake buat beli nasi. bukan buat mabok2!!" sama seperti yang sebelumnya diucapkan. selanjutnya wanita itu berkata, "maaf, saya nggak ada uang lagi!" dengan nada yang sudah agak kesal.
lagi2 bapak itu berkata "ngomong yang kenceng! saya nggak bisa denger ini!"
untungnya wanita itu akhirnya diam saja.
saya tidak bisa membayangkan kalau adu mulut itu terus berlanjut.
pasti ga jelas juga.
yaah, saya sih jadi makin males sama orang2 semacam itu.
bukannya saya nggak kasihan.
pengemis, pengamen, penyair atau apapun itu lah yang hanya mengandalkan kemampuan tangannya untuk menengadah, meminta belas kasihan dari orang lain. mereka bisa kerja kok kalau mau. saya lebih menghargai orang2 yang jualan di bus sih daripada mereka yang nggak jelas itu.
nyanyi ga jelas, teriak2 ga jelas, main gitar ga jelas, bawa anak ga jelas.
yah, kapan Indonesia mau maju kalo semuanya kaya gini terus?
Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen